32. Rp.25 Seri Kebudayaan 1952

19.18
Setelah membahas pecahan 5 rupiah dan 10 rupiah 1952 di Info Uang Kuno 6 dan 7 , mari kita teruskan pembahasan kita pada pecahan selanjutnya yaitu 25 rupiah 1952.

Bagian depan uang

Pecahan 25 rupiah 1952 di bagian depan bergambar sepasang pohon yang di KUKI disebutkan sebagai pohon hayat. Apakah yang dimaksud dengan pohon hayat itu?


Pecahan 25 rupiah 1952 bagian depan


Menurut beberapa sumber yang berhasil saya dapatkan, pohon hayat yang seringkali dilukiskan pada relief kalpataru, gunungan wayang kulit dan pada batik klasik merupakan ekspresi kebudayaan berdasarkan konsep agama Hindu Tri-Buana : pohon hayat digambarkan sebagai medium penghubung atau penyeimbang antara jagat bawah (alam Sakala) dengan jagat atas (alam Niskala), selain itu pohon hayat juga ikut serta menjaga keseimbangan kehidupan alam semesta.


Gambar pohon hayat pada pecahan 25 rupiah 1952


Pada jaman prasejarah kepercayaan terhadap pohon hayat muncul berkaitan dengan paham animisme dan dinamisme. Pada waktu itu masyarakat percaya bahwa ada beberapa jenis pohon tertentu yang memiliki kekuatan gaib yang menjadi sumber kehidupan dan mampu mengabulkan segala keinginan manusia.
Adapun pohon yang dianggap penting tersebut adalah pohon beringin. Dari sini kita menjadi tahu asal kata beringin adalah kata ingin yang ditambahkan awalan ber = ber ingin = mempunyai keinginan = tempat keinginan manusia dikabulkan (mohon tanggapan para pakar bahasa). Sampai sekarangpun masih banyak masyarakat yang menganggap bahwa pohon beringin memiliki kekuatan gaib sehingga tidak boleh diganggu atau ditebang.

Pada jaman kerajaan-kerajaan Hindu, pohon hayat dikenal dengan nama Kalpataru, cerita tentang Kalpataru telah dibahas di info uang kuno 6 yang lalu.

Pada jaman Budha, pohon hayat dikenal sebagai pohon Bodhi yang dikaitkan dengan pencerahan yang diterima Pangeran Sidharta.


Pencerahan yang diterima Pangeran Sidharta terjadi di bawah pohon Bodhi, perhatikan akar-akar pohon yang terjuntai mirip dengan pohon beringin


Setelah agama Islam masuk ke tanah Jawa, kepercayaan terhadap pohon hayat yang telah mendarah daging pada masyarakat Jawa digambarkan dalam bentuk hiasan gunungan yang terdapat pada kesenian wayang kulit. Hiasan semacam ini juga dapat dilihat di kompleks masjid dan makam Sunan Sendang.


Makam Sunan Sendang, perhatikan gambar pohon hayat pada pintu gerbangnya



Gunungan pada wayang kulit


Jadi penggambaran pohon hayat pada pecahan ini bukan sebagai hiasan saja, tetapi memiliki makna yang sangat dalam. Mewakili sejarah panjang dan kebudayaan bangsa Indonesia yang mendapatkan pengaruh dari berbagai agama dan aliran.


Bagian belakang uang




Di bagian belakang tengah terdapat gambar perahu dengan 5 penumpang didalamnya. Apakah gambar ini juga memiliki arti?


Gambar perahu dengan penumpang didalamnya


Pada jaman prasejarah perahu banyak dipuja oleh berbagai suku bangsa. Mereka yang bertempat tinggal di dekat air, misalnya di tepi sungai atau laut menganggap perahu sebagai benda yang sangat berarti dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut pakar sejarah Prof RP Soejono, dulu ada kepercayaan bahwa bila manusia meninggal maka arwahnya akan diantar oleh perahu ke suatu pulau di seberang lautan. Disanalah nantinya arwah akan bertempat tinggal. Karena itu peti mati bangsa pelaut dibuat menyerupai bentuk perahu. Sebuah perahu tiruan juga disertakan pada mayat yang dikubur. Tradisi seperti ini banyak dijumpai di kepulauan Tanibar, Babar, Leti, suku Dayak Ngaju, Toraja, Sumba dan Pulau Roti.

Dalam filosofi Islam, menurut Prof. Dr.Hasan M. Ambary, seorang pakar arkeologi Islam, perahu diibaratkan kendaraan untuk menuju tempat yang abadi. Karena itu seringkali perahu macam ini disebut sebagai perahu arwah.

Bentuk-bentuk perahu arwah ini ditemukan dalam berbagai peninggalan budaya seperti pada bejana, ornamen-ornamen dan juga pada pola kain tenun tradisional seperti yang terdapat pada gambar di bawah ini yang diambil dari pola kain tapis Lampung.


Pola perahu arwah pada kain tenun tradisional


Demikian juga dengan pola manusia yang terdapat di bagian bawah uang dapat dilihat persamaannya dengan pola pada kain tenun tradisional. Pola ini menggambarkan sekumpulan orang yang duduk di tanah dengan tangan terbuka, mirip dengan posisi berdoa atau memohon. Mungkin suatu permohonan agar para penumpang perahu arwah dapat diterima disisi yang kuasa.


-->





Dengan demikian jelaslah bahwa perancang uang ini ingin memasukkan banyak sekali kebudayaan Indonesia ke dalam selembar kertas. Mulai dari kebudayaan Budha, Hindu dan Islam yang diwakili oleh gambar pohon hayat serta perahu arwah yang menjadi lambang masyarakat pelaut, masyarakat negara kepulauan.
Sungguh suatu makna yang sangat mendalam. Semakin kita tahu arti selembar uang kuno maka semakin timbul rasa sayang dan bangga akan uang tersebut.

Semoga informasi ini bisa menggugah kita semua agar lebih mencintai uang-uang kuno negara kita. Salam numismatik.


Jakarta 22 Januari 2011
Kritik dan saran hubungi arifindr@gmail.com
Sumber : terlalu banyak untuk disebutkan

Artikel Terkait

Previous
Next Post »