62. Kertas Probolinggo

18.47

Probolinggo paper atau kertas Probolinggo adalah kertas berharga yang dikeluarkan oleh pemerintah kompeni (VOC) semasa kepemimpinan Gubernur Jendral Herman Willem Daendles (1808-1811). Tugas utama Daendles sebenarnya adalah melindungi pulau Jawa agar tidak jatuh ke tangan Inggris. Waktu itu Prancis yang diperintah oleh Napoleon Bonaparte menguasai kerajaan Belanda dan menyerahkan pimpinan kerajaan Belanda kepada adik laki-lakinya yang bernama Louis Napoleon. Jawa adalah satu-satunya koloni Belanda-Perancis yang belum jatuh ke tangan Inggris. Beberapa kali armada Inggris telah muncul di perairan utara Laut Jawa bahkan sempat menghancurkan galangan kapal Belanda di pulau Onrust.  

Daendles menyadari bahwa kekuatan Belanda-Perancis yang ada di Jawa tidak akan mampu menghadapi kekuatan armada Inggris yang terkenal hebat. Maka ia harus melaksanakan tugasnya dengan secepat mungkin. Dia merekut orang pribumi untuk menjadi tentara, membangun banyak rumah sakit dan tangsi militer baru, juga membangun pabrik senjata dan meriam di banyak kota seperti di Surabaya, Semarang dan Batavia. Dan agar tentara-tentaranya dapat bergerak cepat dari satu daerah ke daerah lain maka dia membangun jalan pos yang menghubungkan ujung barat (Anjer) dengan ujung timur pulau Jawa (Panaroekan) sepanjang kurang lebih 1000 kilometer. 



Untuk membangun jalan dan semua sarana tersebut, Daendles memerlukan banyak uang. Ia mengambil jalan pintas dengan menjual tanah yang dikuasai pihak kompeni kepada swasta. Pembeli tanah tersebut akan memiliki hak penuh seperti memungut upeti, mempekerjakan penduduk dan lain sebagainya. Contoh tanah yang dijual : 15 November 1809, 9 persil (sebidang tanah dengan ukuran tertentu) di daerah Tanggerang dijual seharga 419.800 Ringgit. Pada 19 Mei 1910, 6 persil tanah di Krawang dijual kepada swasta seharga 791.000 Ringgit. Demikian juga tanah-tanah lain di kota Semarang dan Surabaya berpindah tangan ke swasta. Hasilnya selain dipakai untuk biaya pembuatan jalan juga dipakai untuk korupsi dan berpesta pora. 

Pada tanggal 30 Juni 1810, Daendles berniat untuk menjual sebidang tanah di daerah Besuki Panarukan, kepada tuan tanah yang saat itu sedang menyewanya yaitu Kapiten Han Tjan It senilai 400.000 Spanshe matten (mata uang logam perak Spanyol) yang dilakukan dalam 5 tahap dan harus lunas seluruhnya pada tanggal 1 Juli 1812.



Pada tanggal 3 Desember 1810, Daendles kembali menjual  sebidang tanah di daerah Probolinggo, suatu daerah yang berjarak tidak jauh dari Panarukan, kepada Kapiten Han Kie Ko dari Surabaya, saudara dari Kapiten Han Tjan It.  Tanah tersebut dianggap tidak menguntungkan dan hanya menghasilkan beberapa ribu Ringgit saja setiap tahunnya.
                                              
Probolinggo

Tanah di daerah Probolinggo tersebut dijual seharga 600.000 Spaanshe matten perak. Setelah melakukan nego akhirnya proses jual beli ditutup dengan harga 1 juta Ringgit (perak) dicicil dalam waktu 10 tahun, pembayaran dilakukan tiap 6 bulan sebesar 50.000 Ringgit. (Bagi teman yang mengetahui, mohon info perbandingan kurs mata uang perak Spanyol terhadap Ringgit).

Setelah transaksi disahkan, Daendles yang membutuhkan uang tersebut memerintahkan untuk membuat 1 juta Ringgit kertas yang dijamin sepenuhnya oleh pemerintah kompeni dan akan ditarik setiap 6 bulan sebesar 50.000 Ringgit begitu dia menerima pembayaran dari Kapiten Han Kie Ko. Daendles  memperkirakan cara tersebut tidak akan menurunkan nilai pembayaran, tetapi ternyata dia keliru. Peredaran kertas Probolinggo telah mengacaukan perekonomian dan menyeret kompeni ke dalam banyak permasalahan baru. 

Akhirnya Daendles dipanggil pulang dan disambut dengan megah oleh Napoleon Bonaparte, kekuasaan tanah Jawa diserahkan  kepada penggantinya Gubernur Jendral Jan Willem Janssens. Daendles ditugaskan oleh Napoleon untuk memimpin kesatuan Wurtemberg dalam penyerbuan Russia pada tanggal 22 juni 1812. Daendles meninggal di Ghana pada tanggal 8 mei 1818 akibat penyakit malaria.

Dengan demikian kertas Probolinggo yang dikeluarkan semasa pemerintahan Belanda-Perancis ini sebenarnya bukan merupakan uang seperti yang kita kenal dan kumpulkan selama ini, tetapi lebih merupakan surat berharga yang nilainya dijamin oleh pemerintah (kompeni). Karena itu jangan heran bila anda tidak menemukan kertas ini di dalam buku Standard Catalog of  World Paper Money (Pick) edisi general issues , tetapi dimasukkan ke dalam edisi specialized issues di bagian kelompok regional issued (uang daerah). 

Kertas Probolinggo terdiri dari 6 pecahan yaitu 100, 200, 300, 400, 500 dan 1000 Rijksdaalders (Ringgit) di stempel oleh Louis Napoleon (LN) dan ditandatangani 5 orang saksi atau pejabat.

Stempel Louis Napoleon (LN)

Kertas ini hanya dicetak satu sisi, berisi nominal dan keterangan dalam bahasa Belanda dan Jawa yang intinya menerangkan bahwa kertas tersebut dikeluarkan dalam jumlah satu juta Rijksdaalders dan dijamin oleh pemerintah kompeni sebesar nilai yang tertera. Bagi teman yang ahli bahasa Belanda mohon untuk membantu menerjemahkannya.



Sisi belakang hanya terdiri dari dua stempel masing2 di sisi kiri dan kanan atas bertulisan nominal dan LN.



Setelah mengetahui sejarahnya, mari kita lihat seperti apa bentuk kertas Probolinggo ini.

100 Rijksdaalders

200 Rijksdaalders 

300 Rijksdaalders

400 Rijksdaalders

500 Rijksdaalders

1000 Rijksdaalders


Satu set kertas Probolinggo terdiri dari pecahan 100, 200, 300, 400, 500 dan 1000 Rijksdaalders yang bila ditotal akan berjumlah 2500 Rijksdaalders. Karena pemerintah kompeni mengeluarkan sejumlah 1 juta Rijksdaalders maka menurut perhitungan akan terdapat 400 set. Berapa banyak yang telah ditarik kembali dan berapa banyak yang masih tersisa tentu tidak kita ketahui. Yang pasti kertas ini sangat langka dan bernilai jual tinggi. Terbukti pada lelang MPO akhir 2012 salah satu pecahan 300 Rijksdaalders terjual seharga lebih dari seperempat miliar Rupiah setelah fee. Bisa kita bayangkan berapa harga satu set lengkapnya......

Info tambahan :
1. Pecahan 300 Rijksdaalders yang terdapat di artikel ini berbeda dengan yang dilelang MPO dan ternyata keduanya berbeda juga dengan yang di KUKI. Jadi setidaknya ada 3 lembar yang masih eksis..
2. Karena diedarkan dalam jumlah dan area terbatas (hanya di daerah Probolinggo), sebagian kolektor memasukkan kertas Probolinggo sebagai uang lokal atau uang daerah.
3. Dengan tidak adanya pengaman yang memadai, kertas Probolinggo ini rentan dipalsukan. Bahkan menurut sumber yang bisa dipercaya dari beberapa kolektor di negara kita dan dari Belanda, pernah ditemukan set palsunya. Bentuknya sangat mirip, dicetak di atas kertas tua dengan kualitas yang sangat baik. Karena keterbatasan data maka sayapun tidak bisa menunjukkan perbedaannya.
  


Semoga artikel ini bermanfaat dan menambah pengetahuan kita bersama.
Tentu artikel di atas ada kekurangan atau kesalahan, silahkan kirim kritik dan saran: arifindr@gmail.com



Jakarta 5 Januari 2013
Sumber :
1. Harian Jawa Pos 22 Desember 1991 ditulis oleh Markus Sajogo SH
2. Sumbangan gambar oleh kolektor pemilik kertas Probolinggo
3. KUKI
4. Wikipedia
5. Catalogue of Paper Money of VOC, Neth Indies and Indonesia from 1782 to 1981, Johan Mevius
6. MPO
7. Wawancara dengan para pakar


   













   


Artikel Terkait

Previous
Next Post »